taman kita

taman kita

Minggu, 25 Januari 2009

KATA ABDULLAH AZZAM TENTANG USAMAH BIN LADEN


"Kita memohon kepada Allah ta'âla agar menjaga saudara kita, Abu Abdullah Usamah Bin Ladin; lelaki inilah, kedua mataku tak pernah melihat lelaki semisal ini di seluruh dunia"


"Lelaki ini melambangkan seluruh negara"


"Demi Allah, aku bersumpah aku takkan pernah mampu menemukan seorang yang setara dengannya di seluruh dunia islam, jadi kita memohon kepada Allah untuk menjaga agamanya dan hartanya, dan agar memberkahi kehidupannya"


"Dia hidup di rumahnya dengan kehidupan orang yang melarat. Dulu aku terbiasa mengunjungi rumahnya di Jeddah disaat aku pergi untuk haji atau umroh, dan aku tidak pernah menemukan sebuah meja atau sebuah kursi dalam rumahnya: seluruh rumahnya. Dia menikahi empat istri dan di seluruh rumahnya aku tak pernah melihat sebuah meja maupun kursi. Rumah pekerja Yordania atau Mesir bahkan lebih baik dibanding dengan rumah Usamah. Pada saat yang sama, jika kamu meminta kepadanya jutaan riyal untuk Mujahidin, dia akan menuliskan sebuah cek jutaan reyal untukmu"


"Orang-orang Afganistan melihat orang arab layaknya seorang lelaki yang meninggalkan perniagaannya, pekerjaannya dan perusahaannya di Saudi Arabia, atau di teluk Yordania, dan hidup dengan kehidupan roti dan teh basi di puncak-puncak pegunungan. Dan mereka akan melihat Usamah Bin Ladin layaknya seorang lelaki yang telah meninggalkan bisnisnya yang sukses dalam merenovasi masjidil harom milik rosulullah SAW di Madinah untuk saudara-saudaranya hingga ia pun kehilangan bagiannya - 2.5 juta dolar - lalu melemparkan dirinya ke tengah-tengah pertempuran"


"Usamah mendatangi salah satu saudara perempuannya dan menyodorkan fatwa Syekh Ibnu Taimiyyah tentang kewajiban untuk pergi berjihad, kemudian dengan segera saudara perempuannya mengambil buku ceknya dan memberinya sebuah cek yang bernilai 8 juta riyal (2.5 juta dolar). Orang-orang berkata kepadanya : "Apa kamu sudah gila? 8 juta riyal dalam sekali sumbangan?". Banyak dari kaum muslimah yang berusaha merayunya untuk tidak melakukannya; dan banyak kaum muslimin yang berusaha mengecilkan hati suami saudara perempuan Usamah dan mereka berkata kepada saudara perempuannya ini : "Kamu hidup dalam rumah sewaan: untuk membangun sebuah rumah untukmu hanya membutuhkan biaya satu juta riyal (275 ribu dolar), lalu kenapa Kamu tidak menggunakan satu juta riyal dari sumbanganmu untuk membangun rumah sendiri? Setelah itu, dia pergi menuju saudara laki-lakinya, Usamah, dan berkonsultasi dengannya tentang satu juta riyal untuk membangun sebuah rumah baginya. Lalu Usamah pun berkata : "Demi Allah, bahkan tidak satu riyal pun! Kamu hidup dalam sebuah rumah yang luas ketika orang-orang meregang nyawa, bahkan tak mampu untuk menemukan sebuah tenda untuk bertempat tinggal".


"Ketika dia duduk denganmu, kamu akan merasakan bahwa dia adalah seorang pembantu diantara para pembantu rumah, dengan sopan santun dan kedewasaannya. Demi Allah, kami melihatnya seperti itu. Saya pernah berkata kepada Syekh Sayyaf sekali, "Jagalah lelaki ini agar selalu bersamamu dan laranglah dia untuk memasuki peperangan". Mengingat dia, di lain sisi, selalu nekat untuk pergi dan menghadapi musuh secara langsung".


"Percayalah kepadaku, kapanpun dia datang ke rumahku di Peshawar dan Aku perlu untuk melakukan telpon, dia akan pergi dan mengambilkan telpon untukku dan menaruhnya di depanku, agar aku tidak beralih dari posisiku. Sopan santun, kesederhanaan, kedewasaan : semoga Allah menjaganya".


"Petama kali dia mengundangku untuk datang ke rumahnya adalah di bulan Romadhon. Pada saat maghrib, dia membawa sebuah piring yang dipenuhi nasi dengan sedikit tulang dalam lapisan daging, dan dua atau tiga kebab".


"Sayyid Dhiya', (seorang komandan Afganistan di Aliansi Utara, kemenakan Sayyaf dan salah seorang yang memerangi Mujahidin pada saat perang salib di Afganistan yang bermula tahun 2001), memberitahu kepada seorang jurnalis koran Prancis, Le Monde, "Kami tahu Usamah adalah seorang yang kaya, tapi Dia terbiasa hidup diantara kami dalam kehidupan yang sederhana dan tidak berkecukupan. Dia dikepung oleh orang-orang Rusia dalam dua peristiwa : satu diantara dua peristiwa itu terjadi dalam peperangan yang berakhir selama 24 hari, dan inilah peperangan paling lama yang pernah aku ikuti dalam seluruh hidupku. Usamah dikepung selama 7 hari, di puncak gunung, dia bersama dengan 100 pasukannya. Mereka digempur dengan senjata berat secara terus menerus dari arah tentara Rusia, maka Usamah memberi perintah untuk mencegat jalan darat yang terbuka untuk memotong rute suply pasukan Rusia, dan kemudian menyerang pasukan Rusia pada hari ke-7, dan menjadi pemenang dalam pertempuran itu. Usamah dan orang-orang Arab sangat berani, sungguh - dan semenjak pertempuran itu Aku tak pernah melihat sebuah pertempuran yang seganas pertempuran saat itu. Jujur saja, kami saat itu sangat ketakutan dengan serangan yang terus menerus ditujukan kepada kami, dan kami terus menanti di dalam parit perlindungan kami agar pasukan Rusia mendekati kami sehingga kami bisa menembak mereka. Orang-orang Arab, di satu sisi, pada saat pertempuran tersebut, mereka melompat dari parit perlindungan dan menghadapi musuh secara langsung: mereka sangat bersemangat untuk memerangi musuh tangan ke tangan, sedangkan tak seorang Afgan pun yang disiapkan untuk melakukan hal itu".

AL-QAIDA BERBICARA

Wawancara Ekslusif Al Yaqin dengan salah seorang Mujahidin Al Qa'idah

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah. Dengan ijin Allah, saudara kita dari Al Yaqin Media Center memperoleh kesempatan ekslusif dan langka untuk mengadakan wawancara dengan salah seorang Mujahidin Tanzhim Qoidatul Jihad. Dan sang Mujahid ini, semoga Allah sentiasa melindunginya, menjawab seluruh pertanyaan dengan shabr, penuh kerendahan hati, dan izzah yang kuat, sifat unik yang hanya ditemui pada umumnya orang-orang yang menerjuni Jihad.


Kami persembahkan kepada Anda wawancara menarik ini yang akan menyingkap banyak hal, sementara pada saat yang sama juga tetap membawa misteri tersendiri.

Banyak sekali pembicaraan berputar di situs-situs elektronik (internet) – khususnya yang memiliki perhatian untuk mengungkapkan kebenaran tentang Dunia Islam dan menyampaikan berita yang shahih tentang Jihad dan Mujahidin – tentang kemungkinan dilancarkannya serangan terhadap negeri musuh, Amerika atau Eropa. Apa komentar Anda tentang hal ini?

Segala syukur dan puji hanya milik Allah. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah atas Rasulullah saw. Apa yang Anda rasakan tentang berbagai kabar/isu yang ramai beredar di situs-situs yang baik itu, sebenarnya adalah satu reaksi wajar dan dapat diterima oleh orang-orang yang berpikir rasional. Setiap orang, dekat atau jauh, telah mengetahui betapa berat dan keji penindasan yang tengah menimpa Ummat Islam, dan mereka tahu siapa yang layak diharapkan bangkit berdiri untuk membela mereka, yaitu Al Qaidah (Mujahidin).

Ummat juga telah paham, bahwa Al Qaidah tidak akan pernah tinggal diam menyaksikan tirani, tetapi mereka akan berusaha dengan seluruh daya upaya untuk menghancurkan penindasan yang melanda mereka dan seluruh Ummah. Apa yang tengah ‘panas’ bergolak di situs-situs itu tidaklah – sebagai antisipasi atas hukuman yang akan dilancarkan Al Qaidah terhadap tirani jahat yang menindas kita dan ummah kita – lebih besar dari mendidihnya darah di nadi kami. Kami di Tanzhim Al Qaidah sentiasa bekerja dan berusaha untuk dapat melancarkan pukulan balasan kepada Amerika dan Eropa atas berbagai kekejaman yang telah mereka timpakan kepada Ummah Islam.
Berbagai situs elektronik yang menyampaikan berita kebenaran tentang Mujahidin telah semakin sadar dan jeli, sementara para partisipannya juga semakin tajam dalam mengenal dan memahami realitas peperangan beserta seluruh fasenya. Sehingga apa yang mereka perkirakan itu sangat dekat dengan kenyataan.

Apakah Anda menyiratkan, sebagaimana (berita/isu) yang tengah dikejar oleh kalangan media Jihadi itu, bahwa (memang) serangkaian serangan tengah dipersiapkan untuk dilancarkan langsung ke negeri musuh dengan tujuan mengacaukan segala rencana musuh?

Pada umumnya musuh masih belum hilang dari kebingungan/gentarnya; sesungguhya musuh belum pulih sepenuhnya dari tikaman yang pernah kami lancarkan. Lalu kemudian seseorang datang lagi dengan menyampaikan ancaman tentang akan adanya serangan yang lain terhadap negeri mereka. Musuh kita telah menyadari dengan baik bahwa jika Tanzhim Al Qaidah menyampaikan ancaman kepada mereka, maka Al Qaidah pasti menjalankan ancamannya. Dan sebagaimana ciri khas yang penting dari setiap aksinya, maka unsur kejutan/dadakan dalam hal waktu dan target akan menyertai serangan ini.

Kali ini, ancaman langsung disampaikan oleh pemimpin dan amir kami, Sheikh Usamah bin Ladin, semoga Allah melindungi Beliau. Dan Beliau menyampaikan ancamannya kepada Amerika secara tegas dan dengan kata-kata yang jelas, tidak dengan ungkapan atau permisalan. Dan Beliau mengarahkannya juga ke beberapa negara Eropa (dengan menyebut langsung nama-nama negara tersebut), termasuk Australia! Tidak diragukan, hal ini semakin membingungkan/menggetarkan musuh, karena musuh memahami bahwa Sheikh Usamah bin Ladin tidak pernah menyampaikan ancaman kosong, dan Beliau merancang dengan cermat ‘ancamannya’, Beliau sungguh memahami sejauh mana kemampuannya, dan Beliau tidak akan mengeluarkan pernyataan ancaman sebelum segala persiapan aksi telah sempurna dan pilihan target serta waktu pelaksanaan aksi telah ditentukan.

Sebagai arahan bagi kalian, ini adalah berbagai hal teknis di mana Tanzhim Al Qaidah telah menguasainya dengan baik; saya tak akan menutupinya dari Anda, bahwa di salah satu publikasi yang dikeluarkan oleh departemen As Sahab, waktu pelaksanaan serangan atas kedutaan besar Denmark di Pakistan bahkan disebutkan dengan menunjuk hari/tanggal dan target secara tepat! Ini hal yang kadang dilakukan sebelum serangan dilancarkan, dan saya tidak dapat menyampaikan hal yang lebih detil lagi mengenai masalah ini.

Media Jihadi, dengan berbagai variasinya telah ikut mendorong momentum serangan lebih keras, yaitu dengan mengkamuflase serangan tersebut, kemudian membuktikan kehebatan/kekuatan dan kapabilitas serangan tersebut (setelah terjadinya) dengan memperkirakan kapan waktu dan tempat yang menjadi target sebagai bagian dari tantangan yang tak akan dapat ditandingi musuh.

Anda telah menyaksikan publikasi dari As Sahab Media berbunyi “Kata-kata kami adalah kata-kata Pedang Bagian 1 – Al Qoulu … Qoulu Showarim…”. Apakah ini seharusnya (dapat) lebih diperjelas?

Nomor 1 yang ditulis mengimplikasikan serangan terhadap Eropa; nomor 2 dan nomor 3, dst, adalah target lain yang dekat, bahkan mungkin lebih dekat lagi!
Kadang dalam satu kesempatan Tanzhim Al Qaidah menyiratkan serangan kepada negeri ini dan negeri ini, sementara dalam kesempatan lain target ditujukan ke negeri yang lain. Kadang mereka memberi isyarat bahwa serangan akan dilancarkan dengan begini, kadang dengan metode yang lain. Ini menyebabkan musuh akan kehilangan fokus perhatian dan dilanda kebingungan. Musuh lalu akan dipaksa berada dalam keadaan selalu bersiaga, karena tidak tahu kapan dan di mana serangan akan menimpa mereka. Ini salah satu taktik kami dan termasuk dalam strategi perang psikologi.

Analisis yang berkembang di berbagai media jihadi (sebelum serangan terjadi) sesungguhnya bukan analisis kosong tanpa dasar. Bahkan umumnya analisis itu benar dan pada tempatnya. Dan setelah serangan mencapai sasaran, Anda akan paham maksud saya, insya Allah.

Jika tidak ada serangan terjadi setelah waktu (berdasarkan analisis) lewat, apakah ini akan mempengaruhi keadaan peperangan?

Ya. Terjadi atau tidak terjadinya serangan akan memberikan efek masing-masing, dan dalam kedua kasus tersebut, keuntungan berada di tangan kita. Tentu, dalam hal serangan benar-benar terjadi, maka perimbangan kondisi perang akan berubah seluruhnya. Ketika kami melancarkan serangan ke Barat, kami akan menyerang dengan tikaman yang mematikan yang sangat berbeda dibandingkan apa yang kami praktekkan dalam perang gerilya. Kami menyebutnya ‘tikaman ribuan jarum’.

Saudara-saudara kami telah pergi menyebar ke seluruh belahan dunia dan menunggu perintah ‘zero hour’ untuk melaksanakan aksi. Kami berdoa kepada Allah agar Dia menjaga dan mengarahkan para ikhwah kami yang berangkat menyebar ke seluruh dunia itu dalam rangka menolong Din Allah, dan memuliakanNya.

Beberapa di antara mereka bahkan telah ‘bersiaga di posnya’ (sebagai sel tidur) jauh sebelum peristiwa 11 September terjadi. Dan beberapa di antara mereka bahkan berasal dari warganegara Amerika sendiri dan tidak pernah meninggalkan Amerika; menunggu dengan shabr sinyal untuk melaksanakan misinya. Semua berada di bawah arahan Sheikh kita Usamah bin Ladin, semoga Allah melindungi Beliau. Demikian juga banyak yang tersebar di berbagai negeri seluruh penjuru dunia, menunggu perintah. Dan mereka semua berbaur dengan masyarakat untuk menghilangkan perhatian, dan agar mereka dapat meningkatkan penetrasi mereka pada pusat serangan.

Kami mengetahui di mana serangan akan dilancarkan, tetapi kami tidak mengetahui kapan dan di mana target spesifiknya. Hanya Sheikh Usamah yang mengetahui. Tetapi kami mendapat sinyal sebelum serangan dilancarkan, dan kami biasanya diminta untuk memperbanyak doa khusyu dan sholih kepada Allah, seperti yang terjadi pada peristiwa 11 September dan aksi lainnya. Kami mengetahui Amerika akan dihantam oleh satu serangan dalam beberapa hari, tetapi kami tidak mengetahui secara pasti targetnya. Kami tertawa tentang mereka, dan beberapa ikhwah saling melontarkan lelucon tentang orang Amerika dan tentang mereka yang selalu mengatakan bahwa serangan 11 September itu pasti bukan dilakukan oleh Mujahidin atau orang muslim, tetapi sebuah konspirasi yang dirancang musuh untuk mendiskreditkan Islam dan Muslimin. Sungguh kami tertawa dan merasa lucu atas kebodohan ucapan mereka, yang tidak menunjukkan apapun kecuali sikap lemah mereka dan ketidaktahuan mereka.

Sekarang ini kami mengetahui, ada serangkaian misi serangan tengah dilancarkan terhadap Eropa dan Amerika, sangat kuat elemen waktu dan tempat yang menjadi kemungkinannya, dan target tersebut banyak terdapat, sehingga Mujahidin dapat memilih target terbaik. Sebagai contoh, selama pemilu, sebuah negara pasti tengah mencurahkan perhatian terhadap banyak hal; saat yang demikian menjadi kesempatan khusus bagi Al Qaidah untuk membuktikan tantangannya dan menunjukkan kekuatannya, pada saat dunia tengah menantikan hasil dari pemilu!

Apakah menurut Anda Tanzhim Al Qaidah telah cukup kuat untuk mengumumkan (secara terbuka) waktu dan hari dari serangan?

Tentu, berkali-kali sebelumnya dan sebelum perang terjadi, kami menyampaikan ancaman serangan terhadap Amerika, dan kami mewujudkannya, kami menghantam Amerika tepat di tempat yang paling sulit dan sudah tentu target yang terbaik untuk dihantam – gedung World Trade Center, dan kami telah menjadikannya hancur berkeping-keping, dan sasaran lain adalah gedung kementerian pertahanan, Pentagon, sarang dan benteng pertahanan mereka! Waktu pelaksanaannya adalah 911, yaitu nomor telepon darurat untuk meminta pertolongan. Mereka telah menipu rakyatnya dengan berusaha meyakinkan bahwa negeri mereka adalah negeri paling aman di dunia! Adakah yang melebihi tantangan ini dan kekuatan yang ditunjukkannya? Lalu kami giring mereka untuk jatuh dalam perangkap Afghan dan Iraq.

Kami mengancam untuk menyerang Spanyol dan kami benar-benar melaksanakan ancaman itu dengan penetapan waktu yang paling sulit untuk Spanyol, beberapa hari menjelang pemilu. Adakah yang melebihi tantangan ini dan kekuatan yang ditunjukkannya? Dan kami mengguncangkan pemerintahan mereka.

Lalu yang lain tidak juga mau mengambil pelajaran, seperti Inggris ini. Maka kami mengancam mereka dan kami benar-benar melaksanakan ancaman kami dengan tantangan yang besar, yaitu beberapa bulan setelah pemilihan ulang kepala pemerintahan mereka. Mereka balik menantang kami, maka kami buat mereka terguncang juga. Tantangan terhebat adalah pelaksanaan serangan terjadi pada saat Inggris tengah bersiap menjelang konferensi puncak pimpinan organisasi G8, dan ternyata serangan benar-benar terjadi tepat pada saat pertemuan puncak G8 berlangsung! Masihkah orang meragukan kemampuan dan kekuatan Al Qaidah?

Bukankah kami menginginkan untuk mengusir seluruh tentara Amerika dari Semenanjung Arabia, lalu kebanyakan mereka telah melarikan diri dari negeri Haramain (Saudi Arabia) karena (takut) atas kami dan mereka bertahan di sekitar perbatasan sehingga lebih mudah bagi kami untuk memburunya?
Bukankah kami telah menyatakan akan menyingkap kebusukan Pervez Musharraf dan menggulingkannya, dan kami telah melakukannya?
Bukankah kami menginginkan agar dapat bersatu dengan orang-orang shidq di Iraq, lalu Daulah Islam Iraq berdiri?

Jika kami berjanji, maka kami akan menunaikan janji itu, dan tiada daya kecuali diserahkan kepada Allah, kami bertawakkal atas seluruh usaha kami kepadaNya. Milik Allahlah kekuatan dan kemuliaan, dan kami sungguh tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas ijinNya.

Baru-baru ini kami menyampaikan ancaman terhadap Denmark dan tidak lama kemudian sebuah kedutaannya (kedutaan Denmark di Islamabad Pakistan), yang diklaim sebagai salah satu kedutaan paling aman dan selalu dipantau oleh mereka karena dekatnya dengan zona perang, dihancurkan berkeping-keping.

Biarlah para penyembah salib menunggu dengan cemas serangan yang akan menghantam negeri mereka, dan insya Allah akan membuat mereka saling berkelahi setelah terjadinya.

Ada satu (isu) tentang proposal serangan yang akan dilancarkan secara khusus atas Houston. Menurut Anda, apakah presiden Amerika seharusnya mengevakuasi Houston untuk melindungi rakyatnya dari serangan Mujahidin? Dan jika ia tidak serius memberi perhatian terhadap masalah ini, mungkinkah ia akan dipermalukan di hadapan rakyatnya seperti yang telah terjadi selama ini?

Presiden Amerika tidak pernah, walau hanya satu hari, benar-benar peduli atas rakyatnya. Tetapi dia, bersama para malaikat penghukumnya selalu peduli untuk menimpakan kebenciannya kepada Islam dan ummatnya, ia sangat peduli untuk mengambil sebanyak mungkin segala hal demi keuntungan pribadi dan kelompoknya, ia sangat peduli untuk sentiasa menaikkan nilai saham perusahaan jasa keamanan dan perusahaan minyaknya. Dia tak pernah peduli pada rakyat Amerika.

Bahkan sejak Sheikh Usamah bin Ladin, semoga Allah sentiasa menjaga Beliau, menyampaikan sumpahnya yang terkenal, bahwa Amerika dan mereka yang tinggal di Amerika tidak akan (dibiarkan) walau hanya bermimpi merasakan keamanan hingga kita dapat merasakannya di Palestina dan hingga seluruh tentara kafir diusir keluar dari tanah Muhammad saw; dan sumpah itu direalisasikan hingga kini, sehingga mereka kehilangan rasa aman.

Bayangkan sebuah kota seperti Dubai, sebuah kota di mana para tirani telah menyebarkan berbagai kegaduhan dan kekacauan, ternyata masih lebih aman dari Houston! Perusahaan Dick Cheneys bernama Halliburton, pindah dari Houston ke Dubai. Inilah bukti, mereka hanya peduli untuk menjaga kepentingan mereka dan tidak peduli atas kepentingan rakyatnya.

Texas berada dalam pengintaian kami! Kami di Tanzhim Al Qaidah memahami satu aturan perang yang berbunyi “Perangi musuhmu dengan menggunakan senjata yang paling ia takuti, bukan dengan senjata yang paling engkau takuti”. Ada dua hal yang paling ditakuti oleh musuh kita:
1.Serangan dengan menggunakan senjata kimia, biologi, atau radiologi nuklir
2.Serangan yang mentargetkan fasilitas infrastruktur dan industri energi
Jika ini adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh musuh kita, maka jelas kami akan memanfaatkannya dan mencurahkan perhatian untuk mempelajari serta mempersiapkannya. Inilah beberapa hal yang dapat kami pastikan dan tentang harinya masih diliputi berbagai kejutan dari Al Qaidah yang (insya Allah) akan membuat Anda gembira, dan kami telah mengenalkan kepada Anda sebagian dari kreativitas Sheikh Usamah bin Ladin, semoga Allah melindunginya.

Mengenai apakah ada evakuasi atas kota itu atau tidak, saya rasa Bush dan rejimnya tidak akan mengevakuasi kota itu untuk mencapai tujuan pribadinya. Sebagaimana mereka tidak peduli terhadap nasib rakyat Afghan, atau rakyat Iraq, atau rakyat Somalia, atau rakyat Palestina, mereka juga tidak peduli terhadap rakyat Amerika. Bagi mereka, umat manusia tidak lebih dari kertas cek bank yang dapat dihabiskan jika diperlukan.

Bahkan jika serangan memang terjadi atas Houston, sebagai contoh, dan sepuluh ribu orang kafir terbunuh, Bush pasti akan muncul ke hadapan rakyatnya dengan mengekspoitasi berbagai jaringan media dan emosi rakyat, lalu ia akan berkata bahwa ia telah benar, bahwa segala tindakan dungu serta berbagai kegagalannya karena memerangi Mujahidin di Afghanistan, Iraq, dan Somalia adalah benar!

Jika seluruh penduduk kafir Texas musnah, itu belum sepadan bagi kami dan belum cukup untuk menuntut hak dari jutaan Muslim yang telah terbunuh, dan kami akan memerangi mereka dan melancarkan balasan terhadap para penjahat yang telah memerangi kita, kami tidak akan membiarkan mereka, demi Allah! Saya rasa Bush tidak akan merasa malu atau dipermalukan jika sepuluh ribu rakyatnya musnah dan potongan tubuh mereka tercerabik dalam serpihan, karena ia menerapkan sistem kediktatoran, dan tidak ada seorangpun di negerinya berani untuk berdiri menghadang jalannya. Tentu Bush dan orang seperti dia tidak akan merasa malu, karena orang-orang seperti dia telah kehilangan kesantunan dari jiwanya. Kami tidak peduli apakah ia akan merasa malu atau tidak, karena kami akan meneruskan Jihad dan rencana kami, insya Allah. Kenyataan itu adalah apa yang akan mereka lihat, bukan apa yang akan mereka dengar.

Apakah Anda setuju dengan kami, bahwa Bush, terkait isu tentang (amaliyat) Houston, tengah menghadapi dua tantangan; pertama dalam hal serangan, jika peringatan itu diabaikan lalu serangan benar-benar terjadi, maka itu sungguh pukulan yang sangat pedih. Yang kedua, jika peringatan itu disikapi dengan serius dan evakuasi dilakukan atas Houston, lalu Bush menunggu berhari-hari tetapi ternyata Houston tidak diserang, tidakkah Anda setuju dengan kami bahwa ini akan menjadi hantaman telak memalukan dari Mujahidin yang akan membuat mereka (pemerintah Amerika) tidak memiliki harga lagi, sementara Mujahidin tidak perlu mengeluarkan biaya atau pengorbanan apapun??!!

(hal ini membuktikan kebenaran sumpah Sheikh Usamah, tidak ada lagi keamanan bagi Amerika dan seluruh rakyatnya, dan rejim Amerika menjadi kehilangan kredibilitas di mata rakyatnya karena tidak mampu menjamin keamanan bagi rakyatnya. Pent)

Apa yang terjadi di Al Khobar, Yanbu’, dan Baqiq (Saudi Arabia), dan apa yang tengah terjadi saat ini di Yaman adalah permulaan, prosedur, dan riset atas situasi minyak serta (kemungkinan) hasilnya jika pukulan menentukan dilancarkan. Berbagai amaliyat yang kami lancarkan dan (sudah tentu) membawa harga/pengorbanan yang harus dibayar, maka itu sangat banyak dan menjadi bahan pembelajaran bagi kami. Karena Allah, kepadaNya kembali segala daya dan kekuatan, sungguh Maha Pemurah, dan kami merasakan sentiasa Dia melimpahkan kepada kami kemenangan dalam keadaan apapun. Kami meraih kemenangan bahkan meskipun kami tidak melancarkan aksi sama sekali. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Kami ingin memberi Anda kesempatan untuk menyampaikan aspirasi Anda terkait berbagai dinamika yang akan berkembang di masa depan, tanpa harus membuka berbagai informasi yang mungkin dapat menguntungkan musuh…

Al Akh John Walker Lindh adalah warganegara asli Amerika, dan ia dinyatakan bersalah karena berjuang menyertai Taliban dan Al Qaidah. Al Akh Adam Gadahn juga orang asli keturunan Amerika, yang lahir dan tumbuh besar di California. Ada puluhan orang Amerika dan ratusan orang Eropa yang datang ke Afghanistan dan masuk dalam kamp pelatihan kami. Banyak di antara mereka adalah keturunan asli dan warganegara asli (bukan pendatang dan imigran), yang memasuki Afghanistan lalu pulang ke negerinya tanpa ada satupun tanda di paspornya yang mengindikasikan mereka pernah berkunjung ke Afghanistan atau negara lain di sekitar Afghanistan. Ini bagian dari prosedur keamanan yang kami tak dapat mengungkapkannya kepada Anda. Bayangkanlah, kemungkinan apa yang akan terjadi di dalam negara Amerika dan Eropa ketika sekelompok Mujahidin telah lama berada, mereka tetap memakai nama asli mereka, mereka memiliki pekerjaan dan meniti karir, bahkan banyak di antaranya tidak menunjukkan identitas agama Islam mereka, tetapi semua dalam keadaan bersiaga menunggu perintah untuk melaksanakan misi Jihad.

Lalu ada banyak professor dan kalangan intelektual di berbagai universitas di negara-negara barat yang mulai menjalin kontak dengan kami dan memberikan kami berbagai informasi penting. Lebih jauh, ada banyak keluarga dari kalangan militer/tentara Amerika yang terbunuh ketika mereka bertugas bersama militer Amerika… mereka telah diremehkan oleh pemerintah Amerika. Banyak anggota keluarga yang menjadi tentara dan bertugas bersama militer Amerika, lalu mereka terbunuh di medan perang, tetapi nama-nama mereka yang terbunuh itu tidak diumumkan, pun kadang tidak diberitahukan secara resmi kepada keluarganya. Kesemua ini membuat para keluarga veteran itu menjadi frustrasi. Masih banyak lagi perlakuan diskriminatif atas nasib veteran yang pulang, dalam keadaan cacat atau terguncang secara mental. Kesemua perlakuan diskriminatif ini membuat kalangan keluarga tentara yang mati dan veteran perang yang frustrasi itu ingin membalas dendam kepada pemerintah Amerika itu. Beberapa di antara mereka kemudian berkorespondensi dengan kami untuk ikut membalas rasa sakit hati mereka akibat perlakuan diskriminatif dan pelecahan ini. Pemerintah Amerika hanya mengumumkan sedikit saja tentaranya yang mati di medan perang. Dan biasanya itu adalah orang-orang yang dekat dengan para perwira dan pejabat. Sementara hampir semua tentara yang lain yang mati di medan perang, disembunyikan, padahal jumlah mereka puluhan ribu. Sebagai tambahan, ada juga beberapa orang yang bekerja di berbagai kementerian dan departemen (dan mereka tidak puas dengan berbagai kebijakan imperialisme Amerika) menghubungi kami dan memberikan kami beberapa informasi, karena memang tidak masuk akal sebuah negeri yang kalah tetap meneruskan perangnya dan mendukungnya mati-matian. Beberapa di antara mereka melakukan segala hal itu untuk uang, dan yang lain melakukannya karena tidak puas serta ingin membalas atas berbagai tindakan koruptif yang dilakukan rejim pemerintahan negaranya.

Sebelum saya akhiri pembicaraan ini, saya ingin menyampaikan kepada Anda, siapa yang berpikir bahwa Sheikh kami Usamah bin Ladin, hafidzahullah, akan melakukan model aksi yang sama atau mirip, maka berarti ia belum memahami Sheikh Usamah!

Hari esok milik Islam, bersama Mujahidin di barisan terdepan, dan Tanzhim Al Qaidah sebagai pengarahnya. Segenap saudara kami Mujahidin telah mengorbankan segala daya upaya selama lebih dari enam bulan untuk mempesiapkan, menyeleksi, dan memilih target-target di Barat, dan kami akan melancarkan serangan:
Al Qoulu Qoulu Showarim
Kaitus Taroddal Madzolim
Kata-kata kami adalah kata-kata Pedang
Kami arahkan untuk menolak kedzoliman

Selanjutnya di sini kami mengharapkan peran media yang jujur, berbagai media Jihadi. Akan banyak sekali tugas bagi mereka. Maka mari kita optimis dan persiapkan diri kalian semua.

Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan berharga yang Anda berikan dalam wawancara ini. Semoga Allah memberkahi Anda dan waktu yang telah Anda berikan untuk kami.

Semoga Allah memberkahi Al Yaqin Media Center, serta segenap elemen media Jihadi atas peran mereka dalam Jihad ini dengan meneruskan kabar yang benar tentang berbagai perkembangan yang terjadi.

Saya meminta Anda dan seluruh kita, untuk berdoa dengan khusyu dan sholih demi segenap saudara kita yang telah berangkat untuk melaksanakan misi, semoga Allah memimpin mereka dan mengarahkan hukumanNya yang pedih kepada Amerika dan Eropa.

Semoga salam, kasih sayang, dan keberkahan Allah limpahkan sentiasa atas kalian semua.

Wahai Engkau Yang Menurunkan Kitab, Yang Maha Cepat Perhitungannya, kalahkah pasukan ahzab dan hancurkan mereka!

Wahai Engkau Yang Menurunkan Kitab, Yang Maha Cepat Perhitungannya, kalahkah pasukan ahzab dan hancurkan mereka!

Wahai Engkau Yang Menurunkan Kitab, Yang Maha Cepat Perhitungannya, kalahkah pasukan ahzab dan hancurkan mereka!

Dan segala puji dan syukur kepada Allah



Saudara kalian di Al Yaqin Media Center

Diterjemahkan dan disebarkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh forum At-Tawbah

Jumat, 02 Januari 2009

PERTUDUHAN YANG ADIL DAN BERADAB

Hari ini kang laso sedang liburan dan seperti biasanya dia bingung mau ngapain. Sebenarnya ia mau merefresh pikirannya, tapi malah otakknya mubeng dari insiden gaza sampai kondisi kos-kosannya yang ga nyaman lagi. "Heran, kenapa ya sekarang orang mudah saja terpancing emosinya; dikit-dikit gelut, dikit-dikit padu, ga ada habisnya."

Kalo kang Laso grundel begitu pasti ada sebabnya. Lha bagaimana tidak grundel, beberapa hari yang lalu kang Laso dipaksa mbesengut gara-gara motor mas Gembil yang parkirnya geser, lha rak lucu tho? Ceritanya mas Gembil pulang dari mondok, pas sampai di rumah ia melihat motornya bergeser sedikit kearah pintu. Teng... langsung saja ia muntab. "Sopo iki sing mindah montorku," katanya dengan wajah memerah. "Sopo sing mindah kang?" tanyannya pada kang Laso dengan mulut yang sengaja dimajukan. Kang Laso pun cuma cengar cengir dan menjawab singkat, "lha meneketehe."

Episode ngedumel itu pun tidak selesai begitu saja ketika mas Sekam datang. "Koe mesti," dakwa mas Gembil kepada mas Sekam. Lha dalah, kang Laso kaget mak jenggirat. Lha ini orang kok begitu mudah main tuduh. Tadi nuduh kang laso yang selalu hidup damai dan tenteram, sekarang giliran mas Sekam kena tuduh. "Ngopo mbil?" tanya mas Sekam mlotot. "Halah nganggo takok, koe mesti sing ngango motorku." Jjurus tuduh itu keluar lagi, padahal setahu kang Laso yang paling jago ilmu tuduh menuduh itu Amerika dan israel. Mereka berdua paling pinter nuduh orang baik sebagai penjahat dan penjahat sebagai pahlawan. "Lho emang apa salahnya nuduh orang jahat sebagai pahlawan, bukankah itu baik," tanya Glembus waktu mas Laso konfrensi pers tentang hal ini. "Wah yang namanya nuduh dimana saja tidak baik, buktinya ketika PKS menuduh Soeharto sebagai guru bangsa banyak orang yang berteriak," jawab kang laso. "Kalo menurut saya mereka berteriak bukan karena tidak setuju dengan tuduhan itu mas, tapi mereka takut kehilangan," potong Glembus. Kang Laso kaget melihat analisis Glembus. "Memang apa hubungannya pengangkatan guru bangsa dengan kehilangan?" tanya kang Laso. " Ya jelas ada mas. Orang yang berteriak itu bukan tidak setuju dengan tuduhan tapi lebih karena mereka takut suara sang guru dan sanak kerabatnya masuk ke kantong penuduh. Mereka takut kehilangan mata air kehidupan, istilahe kalah cepet, Lha nggeh ngoten tho mas?" Gelembus membela. Kang Laso cuma mantuk, bukan karena setuju, tapi lanjutan pernyataannya tadi sudah bergumpal di bibir. "Begitu juga saat Amerika menuduh serangan Israel sebagai aksi yang wajar memerangi teroris, semua orang turun ke jalan- meskipun kadang turun kejalannya juga ada embel-embel kampanye-tapi dasar Amerika budek ya tidak mendengar," lanjut kang Laso yang omongannya baru dipotong Glembus. "Tapi kang, bukankah tuduh menuduh itu juga sering kang Laso lakukan. Kemaren saya dengar kang laso menuduh presiden Mesir sebagai hamba Israel dan menuduh raja Saudi sebagi konconya setan, dengan begitu kang Laso sudah masuk dalam konspirasi pertuduhan yang adil dan beradab," sela Glembus. Wah ternyata sekarang Glembus sudah agak berani dengan kang Laso. "Lha kita perlu membedakan antara menuduh dengan jujur. Ini yang menjadi penyakit bangsa kita, kita sering tidak bisa membedakan jujur dengan menuduh, makna keduanya sudah mulai bias," terang kang Laso.

"Begini," kata kang Laso sambil memperbaiki posisi sarungnya,"Kita sudah terlatih berkata jujur sejak TK, tapi kita tidak tahu maknanya. Jujur itu bila apa yang kita katakan ada bukti dan itu jelas otentik seperti omongan saya itu. Kalo kita bicara berdasarkan asumsi barulah saat itu kita sedang menuduh, ya seperti ketika Amerika menuduh irak memiliki senjata pemusnah masal itu."
Karena sudah jam tujuh Glembus masuk kamar sambil mengakui kehebatn ilmu tuduh kang Laso. topcer pokonya. Tinggal kang Laso masih duduk ngetengkereng, berdoa agar adik, kakak, bibi, paklik yang ada di Palestina ditolong oleh Yang Mahakuasa dan yang meninggal diterima di Janahnya... Amien.

Rabu, 31 Desember 2008

KEGAGALAN ISRAEL TERHADAP PALESTINA


Ketika George Bush, Presiden AS pertama kali memasuki Gedung Putih sebagai Komandan Nomor Satu AS pada tahun 2001, orang-orang Palestina tengah meregang nyawa dalam aksi infitifadhah al-Aqsha. Delapan tahun kemudian, ketika Bush akan meninggalkan Gedung Putih, hal yang serupa terjadi: orang-orang Palestina kembali tewas sebagai tebusan agresi keji yang dilancarkan Israel, pelakunya masih sama selama 60 tahun terakhir ini, yaitu Israel. Dan, AS, dari dulu sampai sekarang, tetap pada pendiriannya, mendukung Israel dengan segala argumennya.

Apa yang dilakukan oleh Israel sekarang ini, sama persis pula dengan apa yang mereka lakukan terhadap pasukan Hizbullah di Lebanon tahun 2006 silam. Tapi, alih-alih bisa menghancurkan Lebanon, malah Hizbullah memenangkan pertempuran yang berat sebelah itu, dan mereka menjadi symbol kebangkitan dunia Arab. Israel, dengan agresinya terhadap Jalur Gaza sekarang ini akan melakukan kembali kesalahannya.

Jelas sudah Israel berharap bahwa Palestina akan menerima penjajahan Israel—mengingat sekarang Palestina sudah kehilangan lebih dari separuh fungsi sosialnya. Tetapi, jika Palestina berusaha melawan, seperti yang kini ditunjukan oleh Hamas, negara Yahudi itu akan kembali babak belur, sama halnya dengan kejadian di Lebanon dua tahun lalu. Israel harus belajar bahwa kekuatan militer tak akan pernah bisa menghentikan gerakan perlawanan dunia Islam, dalam hal sekarang ini, Palestina.

Faktor Media

Sementara militer Israel khusyuk membombardir 1.5 juta penduduk Gaza, media menyaksikan sebuah dilema simalakama—karena di satu sisi mereka terluka mengabarkan semua itu, namun di sisi lainnya, mereka juga berusaha mencari-cari pembenaran atas ulah sang agresor barbar itu.

Tapi, tak ada yang mengejutkan dalam hal ini; orang-orang Israel sudah memperkirakan semua opini media massa terhadap aksinya, juga karena yang terpenting, Israel sudah jauh-jauh hari (selama enam bulan lebih) membuat kerja sama dengan negara-negara Arab.

Beredar sebuah pertanyaan di kalangan pers AS; apakah sebuah terorisme atau agresi terhadap penduduk sipil bisa dibenarkan? Jawabannya jelas tidak sama dengan kejadian 150 tahun lalu ketika Yahudi dibantai Nazi Jerman—dibandingkan dengan orang-orang Palestina sekarang ini. Negara-negara yang kuat secara militer seperti Israel, AS, Rusia, Cina selalu menyebut korban perjuangan sebagai teroris.

Tapi negara-negara ini gagal mengenali jenis teror yang terjadi di Chechnya, penyembelihan Palestina, represi Tibet dan pendudukan AS atas Iraq dan Afghanistan. negara-negara adidaya, selalu seperti biasanya jumawa dalam mendefinisikan semua arti perlawanan; yang mereka beri label dalam satu stigma—teroris. Dan media-media yang ada sekarang, apa lacur, dipunyai oleh mereka, dan media-media ini lah yang menyebarkan stigma dan citra itu ke seluruh penjuru dunia.

Perlawanan setengah hati

Para negara kolonial selalu menggunakan cara licik yang sama selama berabad-abad dalam menaklukan sebuah wilayah yang alot untuk ditaklukan; mereka menyerang penduduk sipil terlebih dahulu. Ini akan membuat semua elemen pembela tanah yang bersangkutan menjadi patah arah, putus asa dan merasa membentur tembok besar ketika harus konsisten melakukan perlawanan.

Hal inilah yang tidak akan pernah dilakukan oleh orang-orang Palestina terhadap Israel, sebuah perbedaan yang jauh sekali jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Israel yang tak punya rasa malu.

PLO, kemudian Hamas

Tahun 1948, ketika Israel sekonyong-konyong tanpa alasan yang jelas mendirikan sebuah negara di Palestina, 750.000 rakyat Palestina diusir dari rumahnya, dan ratusan rumah dibumihanguskan. Tanah Palestina diklaim milikinya sampai hari ini.

Sebaliknya, Palestinian Liberation Organization (PLO) yang terus digerogoti dan dijadikan mitra dalam merebut Palestina sepenuhnya, terus dijanjikan kekuasaan dan kebebasan bagi rakyat Palestina. Inilah yang membuat PLO menjadi melempem, dan malah kemudian tidak punya daya lawan apapun terhadap Israel di kemudian hari. Bahkan banyak memberi jalan kepada Israel untuk meneruskan penjajahannya dengan kemudahan kelas atas.

Ketika PLO sudah jinak, fokus Israel beralih pada Hamas. Hamas memenangkan pemilu legislatif tiga tahun lalu, karenanya Israel sadar betul, bahwa Hamas lah sebenarnya sasaran tembak untuk mendapatkan seluruh pendudukan Palestina. Dengan cara memberlakukan embargo pada Palestina dan mengizinkan Israel menjejakan kakinya di Gaza, dunia telah mengatakan pada rakyat Palestina dengan kebohongan paling besar dalam sejarah, bahwa Hamas tidak sehat untuk demokrasi Palestina.

Akibatnya, tanpa disadari oleh rakyat Palestina sendiri, mereka kemudian terjebak dalam kenyataan bahwa bukan hanya Hamas yang menjadi korban isolasi atau pengasingan dunia. Tetapi rakyat Palestina pun menjadi pesakitan. Kondisi ini semakin menjadi-jadi ketika Israel menggempur semua infrastuktur yang dimiliki oleh Palestina.

Israel, tak pelak dan tak sungkan, menghabisi semua yang ada di Palestina, polisi, rakyat, bahkan pejabat PLO sendiri yang menghamba padanya.

Kebijakan Gagal

Dalam 60 tahun terakhir, para pemimpin Israel telah menggarisbawahi bahwa satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh orang Arab adalah kekerasan. Padahal, kenyataan sebenarnya, Israel lah yang rutin menjadikan kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Tahun 2002, Liga Arab di Beirut dalam pertemuannya menawarkan Israel sebuah gagasan untuk mengakhiri tumpahan darah dan perjanjian damai. Israel menjawabnya dengan mengagresi Jenin dan membunuh ratusan orang di sana. Bulan lalu, Fatah meluncurkan kampanye media mengingatkan resolusi 2002, tapi dijawab dengan aksi brutal yang eksrem.

Kesimpulannya adalah Zionis Israel tidak lagi punya proyeksi yang panjang. Selanjutnya, hanya akan ada satu negara saja dalam sejarah Palestina. Dalam dekade mendatang, Israel akan berkonfrontasi dengan sebuah pertanyaan mendasar: sejarah penjajahan hanya akan bekerja jika penduduk asli ditumpas habis.

Tapi sering, seperti yang terjadi di Algeria, yang bertahan adalah mereka yang memiliki tanah aslinya. Dan Palestina tidak akan pernah rela untuk berkompromi dengan Israel. Juga tidak akan pernah menerima Israel berada dalam wilayah jengkal tanahnya. Mengaggresi Palestina sekarang ini, kolonial Israel akan segera menyerah dan angkat kaki dari bumi Palestina.

Nir Rosen Wartawan asal Beirut, Pengarang buku "The Triumph of the Martyrs: A Reporter's Journey into Occupied Iraq." (sa/aljazeera)

Sabtu, 27 Desember 2008

TANGIS DUKA GAZA


Hujan Bom di Gaza, Bantai 195 Warga Palestina
GAZA CITY - Bumi Palestina kembali membara. Setelah sempat mereda akibat gencatan senjata enam bulan, jet-jet tempur Israel kembali menghujani permukiman penduduk Palestina di seantero Jalur Gaza pada sore kemarin. Negara Yahudi tersebut meluncurkan puluhan misil dari udara dengan dalih menumpas kelompok Hamas yang menguasai Gaza sejak Juni 2007.

Seperti dilaporkan stasiun televisi Al Jazirah yang dilansir dari Reuters tadi malam, akibat serangan mendadak itu, 195 orang dilaporkan tewas dan 310 lainnya luka-luka. Sebagian di antara mereka adalah para pejuang Palestina. Namun, tidak sedikit juga ibu-ibu dan anak-anak yang menjadi korban.

Korban tewas dan luka itu berceceran di jalan. Serangan tersebut juga menyebabkan banyak bangunan dan jalan rusak dan hancur. ''Setidaknya 195 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka akibat serangan ini,'' kata Menteri Kesehatan Hamas Bassem Naim kepada AFP.

Jubir Kepolisian Hamas Ehad Ghussein mengatakan, korban paling banyak berada di Kantor Pusat Polisi Hamas. Dia menyebutkan, sekelompok polisi sedang mengadakan upacara kelulusan taruna polisi saat serangan terjadi. Hujan bom itu juga merenggut nyawa Kepala Polisi Hamas Tawfiq Jabber. ''Sejumlah anggota regu yang selamat berlarian membantu korban dan meneriakkan Allahu Akbar, Allahu Akbar,'' katanya.

Di sisi lain Gaza, sembilan orang sipil tewas dan 30 lainnya terluka dalam serangan di tempat pengungsian Khan Younis. Di wilayah itu pula terlihat kawah besar terbentuk di tanah. Paramedis sedang mengevakuasi korban-korban ke dalam ambulans.

Saksi mata mengatakan, serangan dilakukan pesawat dan helikopter tempur saat warga akan mengakhiri aktivitas. Anak-anak juga baru saja meninggalkan sekolah mereka ketika jet-jet tempur Israel melintasi langit Gaza. Said Masri, 57, seorang penjaga toko, mengungkapkan bahwa saat misil maut berjatuhan, kepanikan langsung pecah di mana-mana. Anak-anak berlari kebingungan. Para ibu menghambur ke jalanan untuk mencari anak-anak mereka. ''Israel membakar kota ini semudah saya membakar rokok,'' ungkap Masri sambil mencari putranya yang berusia 9 tahun. Pelabuhan Gaza dan instalasi keamanan Hamas dilaporkan hancur.

Wartawan BBC di Gaza melaporkan, bandar laut Kota Gaza dan instalasi-instalasi keamanan kelompok Hamas rusak berat. ''Asap hitam akibat serangan itu mengepul di seantero kota Gaza,'' lapornya melalui sambungan telepon.

Juru Bicara Militer Israel Avi Benayahu mengonfirmasi bahwa mereka telah melancarkan serangan-serangan udara dan mengatakan bahwa sasaran-sasarannya adalah ''infrastruktur teroris''. Dia menegaskan, pengeboman itu baru langkah awal. ''Ini hanya awal operasi yang dilancarkan setelah keputusan kabinet. Kami belum memastikan berapa lama akan berlangsung dan kami akan beraksi berdasar situasi di lapangan,'' kata Benayahu.

Pengeboman itu, lanjut dia, merupakan balasan dari serangan roket yang dilancarkan kelompok militan di Gaza ke Israel beberapa hari terakhir.

Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak dalam jumpa pers menyatakan, serangan akan terus ditingkatkan jika kondisi di lapangan membutuhkan. ''Ada waktu untuk tenang dan ada waktu untuk berperang. Dan, sekarang adalah waktu untuk berperang,'' tegasnya.

Serangan udara Israel kemarin memang yang paling dahsyat dalam sepuluh tahun terakhir. Dari Jerusalem, wartawan BBC Paul Wood melaporkan, beredar kabar bahwa serangan udara akan diikuti dengan serangan darat.

Lawan-lawan Israel langsung meradang. Para pemimpin Hamas menyerukan serangan balasan, termasuk serangan bunuh diri. ''Kami akan membalas sampai titik darah penghabisan,'' tegas Juru Bicara Hamas Fawzi Barhoum. Imbauan itu langsung disambut dengan tembakan roket-roket pejuang Palestina di Qassam ke wilayah Israel. Seorang wanita tewas dan empat warga Israel terluka akibat serangan roket itu di kota Israel, Netivo.

Aksi solidaritas muncul di Tepi Barat, wilayah lain yang dihuni penduduk Palestina, dan negara-negara Arab. Ratusan warga Jordania dengan marah mendatangi kantor perwakilan PBB di kota Amman. ''Hamas, jangan menyerah. Kalian adalah kanon dan kami siap menjadi peluru-peluru kalian,'' teriak mereka sambil mengibar-ngibarkan bendera hijau Hamas.

Di Beirut, puluhan pemuda memenuhi jalan-jalan sambil menembakkan senjata ke arah wilayah Israel. Sementara itu, di kamp pengungsi Palestina di Yarmouk, Syiria, ratusan orang meminta negara-negara Islam bersatu melakukan serangan balasan ke Israel.

Dari Tepi Barat, Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas mengutuk serangan Israel. Pemimpin faksi Fatah yang diusir dari Gaza oleh Hamas pada 2007 itu mendesak semua pihak untuk menahan diri.

Mesir yang berbatasan langsung dengan kota Gaza juga mengutuk keras aksi brutal itu. Kantor Kepresiden Mesir dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita MENA tadi malam mengimbau agar diberlakukan kembali gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza. Mesir juga menuntut Israel bertanggung jawab atas korban tewas dan cedera akibat serangan itu. ''Mesir akan terus melakukan kontak-kontak untuk menciptakan iklim yang kondusif guna mengembalikan masa tenang dan mencapai rekonsiliasi antarfaksi Palestina,'' katanya.

Pernyataan Kantor Presiden Mesir juga menyebutkan, Presiden Husni Mubarak telah memerintahkan agar pintu penyebarangan Rafah di perbatasan antara Mesir dan Gaza yang ditutup akibat blockade Israel agar dibuka untuk para korban Palestina. Selain itu, fasilitas-fasilitas medis Mesir disediakan untuk melayani semua korban serangan udara Israel.

Sekretaris Liga Arab Amr Mussa menyatakan akan menggelar pertemuan mendadak hari ini untuk membahas agresi Israel itu. Dia juga meminta Libya, anggota liga Arab yang juga menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, meminta ada pertemuan mendadak untuk membicarakan serangan tersebut.

Pada bagian lain, AS dan sekutunya, seperti biasa, memberikan komentar yang mengartikan bisa memahami tindakan yang diambil Israel. ''Kami meminta Israel untuk menghindari korban sipil dalam tindakan mereka memburu para teroris,'' bunyi pernyataan resmi gedung putih.

AS TAKUT MAINAN ANAK-ANAK

Militer AS di Irak terjangkit penyakit fobia berlebihan, hingga harus melarang mainan anak-anak berbentuk senjata api. Militer AS merilis video-video dan memasang pengumuman isinya mengingatkan para orang tua di Irak tentang bahaya memberikan mainan "tembak-tembakan" pada anak-anak.

Mengikuti perintah AS, otoritas berwenang di Irak akhirnya juga memberlakukan larangan terhadap mainan anak-anak berbentuk senjata, bahkan meminta anak-anak di seluruh Irak yang sudah terlanjur memilikinya menyerahkan senjata mainannya.

Pemerintah Irak dan militer AS berdalih, larangan itu merupakan bagian dari upaya mencegah penyalahgunaan mainan anak-anak menjadi senjata betulan. "Setiap hari, mainan anak-anak berbentuk senjata api hampir serupa senjata api asli," kata Letnan Kolonel Haydar Muwalim.

Ia menambahkan, "Kami tahu, mainan itu tidak bisa mengeluarkan peluru. Tapi ada cukup alasan bagi pihak militer untuk mengambil langkah yang lebih serius, jika tiba-tiba ada seorang anak yang menodongkan senjata pada tentara, tentara-tentara itu tidak punya cukup waktu untuk memutuskan apakah senjata itu mainan atau senjata asli."

Alasan semacam itu tentu saja tidak dipahami anak-anak Irak. Ibrahim Ayat seorang anak Irak berusia 12 tahun menangis ketika ia dilarang bermain dengan mainan pistol-pistolan favoritnya.

"Kami tidak boleh main di jalan karena berbahaya. Kami tidak boleh ke taman karena mungkin ada orang yang akan meledakkan bom. Sekarang kami tidak bisa main dengan mainan kami karena tentara-tentara tidak suka melihatnya," kata Ayad sambil menangis.

"Kenapa anak-anak di Irak tidak boleh main dengan mainan yang mereka suka seperti anak-anak lainnya di dunia," keluh Ayad.

Beberapa orang tua di Irak juga tidak mempedulikan larangan itu. Mereka menolak membuang atau menyerahkan mainan pistol-pistolan milik anak-anak mereka. "Saya tidak merasa bersalah memberikan mainan pistol-pistolan," kata Abu Karim, ayah dengan dua anak.

Studi yang dilakukan oleh Association of Psychologists of Iraq (API) baru-baru ini menunjukkan bahwa aksi-aksi kekerasan di Irak telah mempengaruhi anak-anak Irak yang hidup ditengah suara tembakan senjata, peluru, kematian dan rasa takut.

Tapi yang fobia sebenarnya adalah tentara-tentara AS. Belum lama ini, tentara AS meringkus seorang anak Irak yang mengacungkan senjata mainannya ke arah mereka. Anak itu dibebaskan setelah dipastikan bahwa senjata yang ia bawa cuma mainan.

Kamis, 11 Desember 2008

MALCOLM X


Malcolm x yang memiliki nama asli Malcolm Little lahir di Omaha, 19 Mei 1925. Ayahnya adalah seorang Pendeta Baptis bernama Earl Little yang juga aktivis Universal Negro Improvement Association (UNIA). Ibunya bernama Louise little. Malcolm memiliki 5 orang saudara seibu dan 3 saudara lain ibu.

Masa kecilnya dihabiskan di Lansing, Michigan. Keluarganya tinggal di sebuah ladang dengan kondisi yang memprihatinkan. Apalagi setelah ayahnya terbunuh oleh Ku Klux Klan di tahun 1931. Keluarga Little ini berantakan. Ibunya masuk rumah sakit jiwa. Malcolm bersaudara harus tinggal di panti asuhan dan sebagian lagi tinggal di bersama orang lain. Malcolm sendiri sempat empat kali tinggal di empat keluarga berbeda.

Ketika SMP, Malcolm tergolong siswa yang pandai. Bahkan ia bercita-cita ingin menjadi pengacara. Namun, menurut guru Bahasa Inggrisnya, Ostrowski, cita-cita itu sangat tidak realistis bagi seorang anak negro. Gurunya itu menyarankan agar ia mengejar karir sebagai tukang kayu saja. Kenyataan pahit ini membuat Malcolm frustasi. Dengan membawa rasa frustasi itu, pada tahun 1941 ia pindah ke Boston ikut kakaknya seayah yang bernama Ella.

Di Boston ia salah bergaul. Teman barunya, Shorty, mengajaknya menjadi tukang semir sepatu di sebuah balai dansa. Namun, mereka -bersama Sophia, pacar Malcolm yang berkulit putih– punya pekerjaan sampingan sebagai calo dan pelaku kriminal. Mulai dari mecuri hingga menggarong. Bahkan, Malcolm menjadi seorang pecandu narkotika. Sampai kemudian polisi menangkap mereka. Malcolm masuk bui.

Tujuh tahun tinggal di penjara –dari tahun 1946-1952– menjadi berkah bagi Malcolm remaja. Ini titik balik pertama dalam hidupnya. Atas dorongan teman satu selnya, Bimbi, Malcolm remaja belajar membaca dan menulis. Ia melalap buku-buku yang ada di perpustakaan penjara. Bahkan, ia ikut berbagai kursus korespondensi.

Pada tahun 1948, adiknya Reginald menyatakan bisa mengeluarkan Malcolm dari penjara dengan syarat ia berhenti merokok dan berhenti makan daging babi. Reginald berusaha mengislamkan Malcolm dan mengajaknya masuk ke dalam barisan Back Muslims atau The Nation of Islam yang didirikan oleh Elijah Muhammad.

Ajaran Elijah Muhammad menarik minat Malcolm yang mengaku dirinya atheis. Ia setuju masuk The Nation of Islam yang bertujuan memisahkan ras kulit hitam dari ras kulit putih. Bahkan, Malcolm percaya betul dengan ajaran Elijah bahwa orang kulit putih bertabiat jahat dan tidak bisa dipercaya. Sebagai tanda keanggotaan, ia memakai nama Malcolm X. X adalah simbol yang dipakai pengikut Black Muslims untuk menyatakan bahwa mereka adalah generasi yang hilang. Manusia yang tercerabut dari asal-usulnya akibat perdagangan manusia yang dilakukan oleh orang kulit putih. Mereka diculik dari Afrika, dibawa dan dijual di Amerika sebagai budak.

Tahun 1952 Malcolm bebas bersyarat. Ia bekerja di pabrik mobil dan tinggal bersama kakaknya, Wilfred, yang juga anggota Black Muslims. Kemudian ia menemui Elijah Muhamamad di Chicago. Malcolm belajar Islam dan ajaran The Nation of Islam langsung dari sang pendiri. Setahun kemudian Malcolm kembali ke Boston untuk mengorganisasikan sebuah masjid. Atas keberhasilannya itu, ia diangkat menjadi imam Masjid Tujuh (Temple Seven) di Harlem.

Selama sepuluh tahun kemudian The Nation of Islam berkembang pesat. Masjid bertambah sebagaimana bertambahnya pengikutnya. The Nation of Islam menjadi gerakan nasional berpengaruh. Malcolm menjadi juru bicara utama gerakan pemisahan warga kulit hitam dari warga kulit putih yang dicita-citakan Elijah Muhammad.

Tahun 1958 Malcolm menikahi Betty X. Dari pernikahan selama 7 tahun mereka dikaruniai 4 orang anak: Attilah, Qubilah, Illyasah, dan Amiliah.

Tahun 1959 gerakan The Nation of Islam dikenal secara nasional. Malcolm X pun mendapat publikasi yang luar biasa, melebihi Elijah Muhammad sang pendiri. Bahkan, media massa menyebut Malcolm X sebagai simbol kebencian rasial.

Elijah khawatir akan popularitas Malcolm X. Ia tak ingin pengaruh Malcolm semakin kuat. Karena itu, ia menarik dukungan. Ketika hubungan mereka semakin renggang, Elijah memecat Malcolm X dari The Nation of Islam. Bahkan, ia memerintahkan orang untuk membunuh Malcolm X.

Setelah keluar dari The Nation of Islam, Malcolm X mendirikan organisasinya sendiri. Ia juga melakukan perjalanan haji ke Mekkah. Di Tanah Suci terbukalah cakrawala pikirannya. Ia baru tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Kebencian terhadap ras kulit putih adalah pemikiran yang keliru. Islam tidak membeda-bedakan warna kulit.

Kebencian yang timbul antara kaum negro dan kaum kulit putih di Amerika bukanlah masalah perbedaan warna, tetapi karena kesalahan sikap dan perilaku. Karena itu, Malcolm X sadar bahwa satu-satunya cara mengatasi pertikaian rasial adalah dengan menerima prinsip kesamaan derajat manusia dan keesaan Tuhan. Inilah kebenaran yang diabaikan oleh bangsa kulit putih Amerika.

Setelah berhaji dengan penuh kontemplasi, Malcolm X bersalin nama menjadi El Hajj Malik El Syabazz. Selama menjadi tamu pribadi Pangeran Faisal, Malik El Syabazz banyak berdiskusi tentang perbandingan ajaran Elijah Muhammad dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Ia sadar betul ajaran Elijah keliru. Selama berhaji ia merasa dirinya sebagai manusia yang utuh. Itu perasaan yang tidak pernah dirasakannya selama hidup di negerinya, Amerika. Di Mekkah semua orang saling menghargai dan tidak mempermasalahkan warna kulit.

Pada perjalanan keduanya ke Timur Tengah di tahun 1964, Malik El Syabazz menyempatkan diri berkunjung ke Afrika, negeri leluhurnya. Selama delapan pekan dia beraudiensi dengan Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Nigeria Nnamoi Azikiwe, Presiden Tanzania Julius K. Nyarere, Presiden Guinea Sekou Toure, Presiden Kenya Jomo Kenyatta, dan Perdana Menteri Uganda Milton Obote. Ia juga bertemu dengan para pemimpin agama berkebangsaan Afrika, Arab, dan Asia, baik muslim dan non-muslim.

Sepulangnya ke Amerika, ia punya perspektif yang berbeda dari sebelumnya. Ia kembali melakukan dakwahnya. Kali ini ia menyerukan kebenaran sejati yang ditemukannya di Mekkah. Kepada teman-temannya yang beragam –ada Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Atheis, sosialis, kapitalis, komunis, kaum moderat, konservatif, dan ekstremis-ia katakan manusia akan memperoleh kedamaian sejati jika mau menyerahkan diri kepada Allah Sang Pencipta.

Namun, perubahan pemikiran itu bukan tanpa risiko. Malik El Syabazz dibayang-bayangi orang yang ingin membunuhnya. Khususnya orang-orang dari The Nation of Islam. Pada hari Ahad, 21 Februari 1965, Malik El Syabazz terbunuh. Tiga orang yang duduk dekat panggung menembaknya saat ia berpidato di sebuah pertemuan organisasi persatuan orang-orang Amerika Hitam di Harlem. Malik El Syabazz menghadap Allah swt. sebagai seorang muslim yang tercerahkan.