taman kita

taman kita

Selasa, 18 November 2008

Harapan untuk Desaku

Aku rindu desaku yang sejuk, indah, dan dingin seperti dulu. Desa yang ramai oleh kicau burung di kesejukan pagi. Berjalan di pematang perkebunan kol yang membentang hijau. "Desamu subur," kata beberapa teman mbak yang datang dari kota.
Namun, akankah semua itu bisa kembali setelah sebuah tower berdiri kokoh di sebelah rumahku. Tak ada lagi tanaman mantang yang menjalar hijau di bawahnya. Sapa nyiur di halaman rumah pun tak ada lagi. Kata orang ini kemajuan, tapi benarkah demikian? Apakah mereka tak mengerti arti keindahan? Ah... coba kalau desaku seperti Surga Maruyung ini:

Mereka membuka kampung hijau. Hidup secara organik. Memenuhi kebutuhan sendiri dan makmur.

Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan rona kemerahan membias di cakrawala. Tsabitah berlari menghampiri bundanya, memamerkan gaun putihnya yang kotor terkena tanah. Bocah perempuan itu bersama adik dan belasan sepupunya baru saja kembali mencari tutut, sejenis keong kecil, di sawah. Dengan bangga ia bercerita mereka berhasil menangkap tutut sore itu. Setelah dimasak, dalam sekejap, tutut-tutut itu tandas, masuk ke perut mereka.

Tak puas hanya mencari tutut, sebelum mandi sore, Tsabitah kembali bermain air bersama Azam, adik lelakinya. Genangan air di atas hamparan rumput yang baru saja disiram air irigasi menjadi arena bermain yang menyenangkan. Mereka memekik kegirangan dan tergelak sambil berseluncur dan berlarian di hamparan rumput.

Begitulah aktivitas anak-anak penghuni "Kampung 99 Pepohonan". Orang sering menyebut kampung itu Kampung Rusa, karena di tempat ini terdapat lima ekor rusa jenis timorensis. Keseharian anak-anak di sini tak lepas dari alam, mulai dari menangkap ikan, menanam pohon, menanam padi, sayuran, dan membuat roti. Keluarga besar Bagas Kurniawan, 39 tahun, memang memfokuskan kegiatan anak-anak mereka bergulat dengan alam. Keluarga ini menjalankan konsep gaya hidup organik, kembali ke alam.

Di lahan seluas 5 hektar di Desa Meruyung, Cinere, Depok, Jawa Barat, ini sepanjang mata memandang yang tampak hanyalah deretan pepohonan dan rumah panggung dari kayu. Di antaranya pohon meranti, trembesi, ulin, menteng, gandaria, bintaro, kemang, bambu, dan mahoni.

Kicau burung dan suara binatang lain menambah harmoni komposisi alam. Membuat siapa pun yang datang enggan beranjak. Lahan hunian dengan basic farming dan botanical forest ini terbentang memanjang di antara dua sumber air yang tak pernah kering, kali irigasi yang sudah ada sejak zaman Belanda dan Sungai Pesanggrahan. Deretan pohon jati putih yang baru berusia 20 bulan di sekeliling kampung itu menambah keasrian dan kesejukan. Kontur tanah yang berjenjang menambah keindahan pemandangan kampung yang dihuni 10 keluarga ini.

Bagas tak pernah membayangkan lahan yang mulai mereka tanami sejak tahun 2002 itu akan menjadi areal hunian yang hijau, rindang, dan sejuk dalam waktu yang cepat. Pasalnya, ketika awal menanam, lahan ini adalah areal persawahan kritis yang gersang karena pestisida. "Petani kita kan maunya instan. Mereka semprotkan segala macam pestisida," katanya.

"Pohon jati putih

ternyata bisa

mengikat suhu"

(Bagas)

Selain itu, saluran irigasi untuk mengaliri sawah juga rusak berat. Tanahnya pun pecah-pecah. Pohon yang tumbuh di sana mulanya hanya tujuh batang, yaitu pohon rengas, jambu, dan mangga. Padahal, kata warga setempat, dulu kawasan ini merupakan bukit yang lebat. "Awalnya di sini panasnya mencapai 41 derajat celsius, " tambahnya.

Kegiatan menanam itu dilakukan seluruh keluarga yang sebelumnya berdomisili di Kebayoran Baru dan Bintaro, Jakarta Selatan. Hampir setiap hari mereka datang ke Meruyung untuk menanam dan beternak. Saluran irigasi yang rusak diperbaiki. Kolam-kolam pun mulai dibangun dan disi ikan patin, nila, bawal, dan gurami. Sawah-sawah mulai ditanami padi tanpa menggunakan pestisida. Gaya hidup organik mulai diterapkan.

Ternyata berhasil. Perlahan suhu udara di Kampung 99 Pepohonan turun. Kini pada malam hari suhu mencapai 14 derajat celsius. Menurut Bagas, itu berkat pohon jati putih. "Pohon jati putih ternyata bisa mengikat suhu dan melepaskan dalam bentuk cairan. Jadi, kalau kita ada di bawahnya akan melihat ada cairan menetes, makanya lembab," katanya.

"Kami dapatkan sesuatu di tanah yang semula gersang ini, yang tidak pernah kami bayangkan," kata sosiolog perekonomian ini.

Hunian yang ramah lingkungan dan terbuka kini mulai dibangun. Luas setiap rumah kayu yang dibangun tak lebih dari 100 meter persegi, tanpa pagar, dan dibangun bersama oleh seluruh penghuni Kampung 99 Pepohonan. Setiap keluarga mempunyai kolam penyangga untuk memelihara ikan atau ternak dan kebun minimal 100 meter persegi.

Kayu yang digunakan untuk membangun rumah bukanlah kayu yang mahal. Mereka menggunakan kayu yang mudah ditemukan di sekitar Meruyung. "Kami pakai kayu kampung. Di sini banyak perumahan, yang ketika membangunnya, developer melakukan land clearing tanah. Sebelum dibuldozer, tanaman itu kami bayar. Kami potong sendiri, belah, dan rendam 12 bulan di sungai biar awet," tutur Bagas.

Kampung 99 Pepohonan mulai dihuni pada tahun 2005. Menurut Teddy, adik Bagas, yang lebih sulit justru mengubah perilaku dan kebiasaan untuk menyesuaikan kehidupan alami di kampung ini. Dulu menanam pohon diprotes warga sekitar. "Warga sekitar takut ada ‘penunggunya'. Tapi dikasih pengertian bahwa pohon itu tujuannya untuk menguatkan tanggul kali irigasi," ujar pria berusia 33 tahun ini.

Ekosistem di kampung ini mulai membaik. Alhasil, binatang-binatang liar berdatangan, mulai dari kunang-kunang, tupai, ular, hingga biawak. Semua tumbuh dan berkembang di sini.

Bagas dan Teddy menjaga ekosisitem ini. Semua penghuni dilarang menebang pohon, memetik daun, membuang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik. Agar lingkungan asri dan udara segar terus didapatkan, seluruh penghuni tidak merokok.

"Inilah yang dibilang

ekonomi barter."

(Teddy)

Kata Teddy, dulu hampir semua keluarganya perokok berat. Dia biasa menghabiskan lima bungkus rokok per hari. Karena tekad yang kuat mewujudkan hunian impian, mereka bersepakat berhenti merokok. Mereka tabung uang rokok untuk membangun rumah yang kini mereka tempati.

"Dulu saya tinggal di Bintaro. Saat liburan, bangun pagi anak-anak langsung menyetel tV, play station, komputer atau pergi ke mal. Sehari-hari berinteraksi dengan alat. Jadi takut ketemu orang, social phobia. Mereka jadi manusia yang apatis," katanya.

Bukan hanya mengonsumsi semua makanan yang alami, mereka juga membangun hubungan sosial dengan pola baru. Hubungan antartetangga dibangun atas dasar keterbukaan dan kolektivisme. Teddy mencontohkan, untuk menjaga agar konservasi ekosistem yang mereka rancang tidak rusak, pembuangan limbah rumah tangga sangat diperhatikan. Dia merancang "sistem satu laundry, satu dapur, dan satu sumur". Kegiatan mencuci pakaian dipusatkan di rumah seorang penghuni yang dekat dengan Sungai Pesanggrahan. Memasak dilakukan dengan menggunakan kayu bakar yang diperoleh dari ranting atau dahan pohon yang berguguran dan dipusatkan di rumah penghuni lain yang gemar memasak.

Agar lebih hemat, mereka menjalankan sistem barter. "Kami tetap dapat nota bon dari yang laundry, yang laundry dapat bon dari yang masak. Jadi, kami bisa bayar bukan dalam bentuk uang, tapi mencuci baju. Itulah yang dibilang ekonomi barter,"ujar ayah tiga anak ini.

Agar air tanah tidak cepat habis, kampung ini hanya memiliki satu sumur. Dengan menara air yang cukup besar, air dialirkan ke sepuluh rumah, musala, dan kafe. Menyiram rumput dan tanaman tidak menggunakan air tanah, melainkan dengan air kali irigasi, untuk menghemat air tanah.

Kampung ini memproduksi sendiri seluruh kebutuhan pangan sehari-hari bagi penghuninya, seperti beras bebas, pupuk, roti tanpa pengawet, keju, susu, madu, sayur-mayur, yogurt, dan ikan. Setiap penghuni bebas mengembangkan ide, minat, dan potensi untuk membuat kehidupan di kampung kecil ini semakin lengkap. Pengembangan produk terus dilakukan. "Di sini kami diajak untuk hidup produktif. Semua yang menghuni di sini punya potensi masing-masing," kata Teddy. "Ada yang potensinya jago bikin roti, makanya kami punya pabrik roti. Ada yang jago mengolah ikan, maka kami punya peternakan ikan."

Para penghuni kampung ini bercita-cita menjadi komunitas mandiri. "Semua kebutuhan dipenuhi dari sini semua. Kalau kita mau makan sesuatu, ya tanam dulu. Mau makan ikan, ya pelihara ikan. Mau minum susu, ya ternak sapi," ujarnya.

"Semua kebutuhan

dipenuhi dari sini ."

(Teddy)

Semua yang ada di Kampung 99 Pepohonan ini tak ada yang terbuang. Telur keong emas dan remah-remah sisa pembuatan roti dijadikan pallet untuk makanan ikan. Daun-daun untuk makanan rusa dan dijadikan kompos, yang kini selain dipakai sendiri juga sudah dijual. Ranting-ranting kayu untuk kayu bakar. Kotoran ternak dijadikan pupuk tanaman. Tulang-tulang ikan, ayam, bekas- makanan, dikumpulkan untuk makan ikan bawal. "Tidak ada yang terbuang, nggak ada yang mengendap," katanya.

Menurut Teddy, kini hasil Kampung 99 Pepohonan berlimpah, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuninya. Produk seperti yogurt, beras, madu, cuka apel, ikan, dan sayuran sudah mulai dijual ke luar. Kegiatan menanam pun tak pernah berhenti. Setiap hari penghuni kampung ini menanam sepuluh pohon. Inovasi terus dikembangkan, mulai dari pembuatan cuka kelapa, hingga yogurt sukun. Juga memproses air irigasi untuk mandi agar pemakaian air tanah semakin berkurang. Mereka juga membuat pembangkit listrik tenaga kincir air.

Warga kampung itu juga terbuka menerima penghuni baru yang ingin hidup secara organik. "Satu RT saja kayak gini. Jika diterapkan untuk seluruh Indonesia, kita pasti akan kaya. Kita nggak perlu impor lagi, sudah cukup. Kalau perlu malah ekspor," ujar Teddy. (E2)

Aku berharap itu semua terjadi di desaku.
Saudara-saudara, teman-teman, ayo kembali ke desa tapi jangan kita bawa pulang sampah kota, apalagi sampah budaya. Kita tanam kembali kol yang dulu sempat mengharumkan desa kita.

Senin, 17 November 2008

Cinta sebuah kata Kerja

Rabu malam, seperti biasa aku harus mengajar Bahasa Inggris kepada teman-teman Pesma Al-Ausath. Pertemuan pertama telah terlewati dan ini pertemuan ke dua. "Teman-teman semua, pada sore ini kita akan membahas tentang part of speech. Ada yang tahu apa itu part of speech?" kata ku pelan. Anak-anak mulai gaduh. Ada yang bengong ada yang bertanya kepada tetangga, dan beragam aktifitas lain. Materi pun mengalir sampai aku bertanya kembali. "Sekarang kata Love. Ada yang tahu "love" kata kerja atau kata benda?" Anak-anak kembali gaduh lagi. Sebagian ada yang berteriak, "Kata kerja… Contohnya kata I love u." Sebagian yang lain melonjak, "Kata benda… contohnya kata I fall in Love." Dalam hati aku merasa bangga juga karena anak-anak tampak antusias.

Tapi, tiba-tiba otakku berhenti bekerja. Jika love adalah kata benda, mengapa ia diikuti kata kerja yang negative? Pikiranku melompat ke bahasa Indonesia, "…. Jatuh cinta, mabuk cinta… kenapa tidak bangun cinta atau sadar cinta…"

Hufh…

Aku berpikir seandainya pusat bahasa mencabut cinta dari kata benda. Kasian cinta selalu terpuruk. Alangkah indahnya ketika kita masukkan ia dalam kata benda saja.

I love u mom.

Alih-alih mengatakan,

I fall in love with her.

I am falling in love

Kasihan… cinta membuatnya terpuruk, jatuh, dan ambruk.

Orang Indonesia bilang:

Aku sedang mabuk cinta.

Kasihan… cinta membuatnya tidak sadarkan diri, melayang, dan mimpi.

Seandainya semua orang bisa mengatakan cinta dalam kata kerja pada sang pemilik cinta, bumi ini pasti damai. Cinta itu akan menjadi daya gerak yang menakjubkan. Cinta itu akan dibuktikan karena cinta adalah kerja, bukan benda yang membuat mabuk atau jatuh.

Ayo teman, buktikan cintamu!!!

Kepada yang Takut Menikah

"Seorang laki-laki tertimpa kelaparan," kata Abu Hurairah dalam Ad-Dalail, "Istrinya pun berdoa, 'Ya Allah limpahkanlah rezeki-Mu kepada kami apa yang cukup untuk menjadi adonan kami dan roti kami.' Ketika suaminya pulang, nampannya penuh dengan adonan dan di atas tungku terdapat daging yang siap dimasak serta penggilingan mereka bekerja."

"Suaminya bertanya," sambung Abu Hurairah, "Dari mana semua ini?" Istrinya menjawab, "Rezeki dari Allah." Maka ia menyapu apa yang ada di sekeliling penggilingan. Rasulullah bersabda, "Seandainya ia membiarkannya niscaya penggilingan itu akan berputar atau menggiling sampai hari kiamat."

***

Rasulullah menceritakan sepasang suami istri yang saleh. Keduanya dalam keadaan sangat lapar. Saking laparnya, suaminya tidak tahan berdiam di rumah. Ia pun keluar. Lalu si istri berdoa kepada Allah agar memberinya rezeki sebuah penggilingan dan memberinya adonan untuk membuat roti. Allah mengabulkan doanya. Ketika sang suami pulang, nampan besar yang biasa digunakan untuk mengaduk adonan telah penuh dengan adonan, dan penggilingan terus berputar menggiling biji-bijian, sementara di atas tungku terdapat daging yang melimpah siap untuk dimasak.

"Dari mana ini?" Tanya sang suami. "Rezeki dari Allah," jawab sang istri. Lalu suaminya menyapu remahan di sekeliling penggilingan. Rasulullah menyampaikan bahwa seandainya laki-laki ini membiarkan penggilingan bekerja, pengilingan itu akan terus bekerja sampai hari kiamat.

Ada yang tidak percaya dengan kisah ini? Eits, jangan lupa bahwa itu adalah rezeki Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh sebagai karamah bagi mereka dan Allah berkuasa atas segala sesuatu. Hal seperti itu sudah sering terjadi pada masa Rasulullah dan para shahabat. Allah melimpahkan makanan dan minuman. Mereka makan dan minum dari makanan dan minuman yang sejatinya hanya cukup untuk sedikit orang saja.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

1. Adanya karamah bagi hamba-hamba Allah yang saleh. Hal ini ditetapkan oleh banyak dalil yang sampai pada tingkat mutawatir. Beriman kepada karamah para wali termasuk aqidah ahlus sunah wal jamaah. Akan tetapi, karamah hanya terjadi pada para wali yang benar-benar bertakwa. Sesuatu yang di luar batas kewajaran mungkin saja terjadi pada orang terusak di muka bumi ini, dan di antaranya adalah Dajjal yang telah diberitakan oleh Rasulullah. Kita tidak boleh memberitakan karamah seorang hamba Allah sebelum diyakini kebenarannya atau dengan kesaksian atau penglihatan.

2. Besarnya keutamaan doa. Allah telah mengabulkan doa wanita ini. "Dan Rabbmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (Ghafir: 60).

3. Adanya orang saleh pada zaman umat terdahulu.

4. Dari hadis ini kita mengetahui bahwa manusia sejak dulu telah mengenal adonan dan roti. Mereka mengenal penggilingan untuk menghaluskan biji-bijian, nampan untuk adonan, dan cetakan untuk membuat dan mematangkan roti.

Keterangan:

Hadis ini disebutkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (6/1051), no. 2937.

Dia menisbatkannya kepada Thabrani dalam Mu'jamul Ausath dalam Ad-Dalail, Bazzar dalam musnad-nya, Ahmad dalam musnad-nya. Dia menyebutkan ucapan Al-Haitsami tentangnya dalam Majmauz Zawaid, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Bazzar, Thabrani dalam Al-Ausath dengan riwayat yang senada, rawi-rawinya dalah rawi-rawi hadis shahih, selain Syaikh Bazzar dan Syaikh Thabrani, dan keduanya adalah tsiqqah."

Minggu, 16 November 2008

I love u mom

Ketika aku mencoba menerangkan cinta, yang ada adalah wajahnya
Ketika aku mencoba menerjemahkan sayang, yang ada adalah senyumnya
Ketika aku mencoba mengingat wajahnya, cinta itu benar-benar ada
ketika aku mencoba mengingat senyumnya, rasa sayang itu memenuhi semua rongga dada
Aku tak punya cukup kosa kata untuk mengucap rasa yang membuncah dalam hatiku
Aku tak punya cukup keberanian untuk sekadar meminta maaf
Aku hanya punya harapan ia akan meridhaiku ketika kuucap "I LOVE U MOM"
Maafkan kesalahanku ibu...